Daftar isi: [Tutup/Tampilkan]
Sesuai jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya hari ini merupakan jadwal pemupukan ke 9 untuk tanaman cabe tahap 1 dan pemupukan ke 7 tanaman cabe tahap 2.
Pemupukan dilakukan dengan sistim kocor dengan bahas, dosis atau takaran sebagai berikut:
Untuk tanaman cabe tahap 1:
- Yaramila compleks 11 drum x 10 kg
- Calha 11 drum x 0,5 kg
Untuk tanaman cabe tahap 2:
Pemupukan dimulai dari pukul 8 pagi selesai pukul 6 sore dengan personil 3 orang dibantu mesin pendukung 1 unit.
- Yaramila complex 3 drum x 7 kg
- Hi Cal 3 x 1,5 kg
Masing-masing tanaman mendapat kocoran pupuk sebanyak 200 ml.
***
BERTANI DARI HATI
SECUIL PENGALAMAN BUAH DARI SEBONGKAH RASA PENASARAN
Bermula dari rasa keinginan untuk membantu masyarakat petani untuk mengatasi permasalahannya dibidang permodalan, maka muncullah ide untuk merealisasikannya melalui pola kerjasama tertentu.Dan, karena pada dasarnya hanya untuk mengatasi permasalahan permodalan, maka pola kerjasama tertentu dimaksud secara tidak langsung mensyaratkan syarat lain yang harus tersedia yaitu ketersediaan lahan dan tenaga kerja di lain pihak.Bahwa dengan adanya kombinasi 3 komponen dasar dimaksud yaitu lahan, tenaga kerja dan modal, secara teori niscaya permasalahan klasik para petani bisa teratasi.***Dari hasil penyaringan beberapa calon mitra yang dianggap potensial, terjadilah kesepakatan kerjasama dengan 3 orang petani yang memenuhi syarat, yaitu petani yang mempunyai lahan minimal 2 hektar, dan ada tenaga yang siap untuk mengelolanya sesuai jenis tanaman yang akan ditanam yang untuk awal-awal difokuskan untuk tanaman Cabe, Kentang, Tomat dan yang sejenisnya.Dari beberapa contoh simulasi yang bersumber dari potensi, asumsi maupun proyeksi, disepakatilah sistem bagi hasil dengan sistem fifty-fifty (50 :50) dari keuntungan. Sementara keuntungan dimaksud adalah hasil bersih dari penjualan dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemilik modal.Dengan pola kerjasama ini, kecuali untuk biaya tenaga kerja, semua biaya-biaya yang harus keluar menjadi tanggungan pemilik modal. selama proses produksi berlangsung akan diperhitungkan terlebih dahulu, lalu sisanya dibagi dua.Akan tetapi karena satu dan lain hal yang menyebabkan menjadi tidak ada untung atau malah rugi, maka kerugian tersebut tidak dibebabankan kepada Petani, akan tetapi menjadi risiko pemilik modal.***Singkat cerita, dari 3 orang petani yang kerjasama tersebut tak seorangpun yang dapat memberikan imbal jasa sebagaimana yang diharapkan. Jangankan imbal jasa, untuk kembali modal saja dari hasil panen tanaman yang ditanaman tidak pernah terjadi. Bahkan untuk hanya setengahnyapun tidak bisa sama sekali.Mulai dari sesi pertama, kedua, ketiga dan seterusnya hingga rata-rata 5 sesi musim tanam sesuai musim tanamnya, tidak pernah satu sesipun yang bisa menghasilkan untung. Bahkan jangankan untung, untuk kembali modal, pun hanya untuk setengahnya saja tidak pernah bisa tercapai, sehingga membuat semakin lama, modal semakin banyak tergerus hingga kalau dihitung-hitung sudah mencapai 200 jutaan.Dikira dari sesi berikutnya akan bisa menggantikan kerugian yang ada, maka masih ada upaya-upaya untuk mencoba terus. Gagal lagi, coba lagi, gagal lagi, coba lagi, demikian seterusnya hingga berlangsung sampai berapa sesi percobaan.Padahal maksudnya apabila ada keuntungan, maka keuntungan tersebut akan dimanfaatkan untuk menambah calon mitra baru dari petani lain, supaya lebih banyak lagi yang bisa terbantu. Kalau dari awal misalnya 3 keluarga petani, setelah itu bisa menjadi 6, dari enam bisa jadi 12, dari 12 bisa jadi 24 demikian seterusnya bisa menjadi ratusan bahkan sampai ribuan untuk jangka panjangnya.Setelah melakukan evaluasi mendalam atas semua hasil kerjasama ........ dst
Untuk yang lebih detil lagi bisa dibaca di kisah Bertani dari Hati di https://www.corpstanilintong.com/search/label/Kisah?&max-results=20
***

