Kami punya Kucing. Kami menamainya Tongky karena kesukaannya makan ikan tongkol. Dibandingkan dengan makanan-makanan lain yg diberikan, hanya ikan tongkol yang membuatnya makan dengan lahap.
Mungkin karena keturunan kucing kampung, dikasih semacam Whiskas ga disentuh sama sekali. Dikasih makanan Sarden sachetan semacam Royal Canin malah akhirnya akan membuatnya muntah. Meskipun sekali-sekali diganti dengan Ikan Kembung, tapi sehari-harinya lebih berkutat dengan ikan tongkol, tongkol dan tongkol.
*****
Ceritanya Si Tongky ini merupakan anak kucing liar. Kucing liar yg sering cari makanan di bak sampah depan rumah. Bak sampah pribadi berbentuk segi empat yang terbuat dari semen, supaya petugas pengambil sampah rutin setiap pagi dari RT setempat tinggal ngambil.
Karena kasihan, apalagi kondisinya sedang dalam keadaan bunting, akhirnya kami sering menyediakan makanan didepan pintu garasi rumah.
Karena makanan yg masih segar, berupa nasi putih yg dicampur dengan ikan, ikan apa saja yg kami konsumsi pada saat itu, tentu saja dilahapnya dengan nikmat. Karena pastilah beda dengan bahan2 makanan yg sudah berada di bak sampah, yang kadang aromanya saja sudah bisa dibayangkan.
Awal2nya si kucing liar ini makannya sambil takut-takut. Ketika mau didekati pas makan, akan langsung ambil ancang-ancang utk menjauh. Dia hanya mau makan sambil tenang kalau tidak ada yang mendekati.
*****
Pendek cerita, si Kucing liar ini malah melahirkan anak-anaknya di Garasi Rumah. Kebetulan di Garasi Rumah ada karton-karton bekas bungkus alat-alat elektronik yg pernah dibeli. Entah bagaimana ceritanya dia harus memilih melahirkan anaknya disitu hanya dialah yang tau. Krn kalau ditanya ga mungkin. Malah kabur nanti dia. Anaknya ada 5. Salah satunyalah si Tongky ini.
Entah bagaimana pulalah ceritanya, satu persatu anak si kucing liar ini hilang. Hari ini hilang satu. Sekitar seminggu kemudian hilang lagi satu. Terakhirnya hilang sekali dua. Total2 yg hilang sudah 4. Yang tersisa hanya satu.
Karena tinggal hanya satu, akhirnya untuk mencegah ikut hilang lagi kami pindahkanlah ke dalam rumah. Tidak di garasi lagi. Entah kenapa kami sekeluarga harus ikut bertanggung jawab utk menyelamatkan anak satu-satunya yang tersisa itu.
Garasi kami memang garasi terbuka. Bukan garasi tertutup. Sehingga untuk sebangsa kucing dan atau binatang kecil lainnya bisa bebas keluar masuk. Karena hanya berupa pagar besi setinggi orang dewasa dan bagian bawah, ada jarak dari lantai ke bagian bawah pagar sekitar 10 cm sehingga memudahkan sebangsa kucing utk keluar masuk.
*****
Sekitar setahun berselang, si anak kucing satu-satunya yang tersisa, yg belakangan kami sebut namanya Tongky ini sudah bunting. Kata ibu saya buntingnya akibat pergaulan bebas. Saya ga ngerti maksudnya karena saya masih kecil. Baru kelas 1 SMP. Cuma kata ibu saya maksud pergaulan bebasnya krn ada beberapa kucing jantan yg sering datang menghampirinya ke garasi. Dari kucing buduk, pincang, yang kepalanya gede dan yang lain-lain.
Yang namanya kucing liar kelas kampung harap maklum kondisinya rata2 seperti itu, karena kalau kucing yang bagus-bagus pasti diproteksi majikannya di rumahnya masing-masing. Ga akan pernah dikasih keluar. Keluar pintu dikit aja udah langsung diamankan.
Si Tongky, setelah besar memang tetap kembalikan ke habitatnya sebagai kucing liar, akan tetapi dia bebas masuk ke rumah kapan saja terutama saat lapar dia pasti datang ke rumah dan tau cara mintanya seperti apa, yaitu dengan cara menggosok-gosokkan badannya ke siapa aja diantara kami yg bisa didekatinya. Setelah itu dia bebas kemana aja, meskipun tetap kebanyakan berada dalam rumah untuk tidur ataupun istirahat.
*****
Dan, kembali ke yang melahirkan itu. Produknya ga jauh-jauh dari kucing-kucing jantan liar yg sering menghampirinya seperti yg diceritakan ibu saya itu. Terlihat dari warna bulunya yang bermacam-macam. Dari 4 anak yg dilahirkannya, ada yg warnanya kehitam2an, dan ke-kuning2an. Lalu, yang pincang juga ada.
Nah, hebatnya, si Tongky ini, saat-saat melahirkannya, ketika kami sekeluarga diserang covid-19. Kedua orang tua saya harus dirawat inap. Sementara saya sendiri diungsikan ke rumah nenek yang jarak tempuhnya kurang lebih 4 jam naik mobil. Sehingga dengan demikian rumah praktis kosong.
Boro2 ngurus si Tongky. Khususnya pas awal2 melahirkan. Ngurus diri sendiri aja masing2 kami sudah ga konsentrasi lagi. Kami semua pergi selain meninggalkan rumah, juga meninggalkan Tongky dengan 4 anaknya yg baru lahir, yang entah seperti apa nasibnya nanti terserahlah. Kita semua juga nasibnya sedang terancam Covid-19 yang mengerikan itu.
*****
Ternyata, semua selamat. Kedua orang tua juga selamat dari Covid-19, Si Tongky dengan 4 anak hasil pergaulan bebasnya juga selamat. Semua anaknya masih ada, utuh tak ada yang berkurang satupun. Entah bagaimana si Tongky menghidupi dirinya, yang konon pasti butuh asupan gizi dan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan ke empat anaknya, selama hampir 2 minggu ketika kedua orang tua saya berada di Rumah Sakit.
Uniknya, ketika melahirkan, Si Tongky ini memilih mengambil tempat melahirkan di atas plafon rumah. Yang Plafon lantai 2 lagi. Karena rumah kami terdiri dari 2 lantai. Entah bagaimana dia kapan dan bagaimana dia bisa menemukan tempat melahirkannya itu. Sementara dicari-cari, akses langsung ke plafon lantai 2 tidak ada sama sekali. Satu-satunya akses ke atas adalah dari Plafon kamar mandi. Tapi kondisinya dalam keadaan tertutup rapat.
Tapi
untung dia memilih tempat disitu. Seperti sudah diantisipasi olehnya. Karena bisa
dibayangkan, kalau melahirkan di dalam rumah, sementara rumah harus ditutup
semua, karena akan ditinggal pergi selama berapa hari yang belum bisa diprediksi
kapan pulangnya, bisa dibayangkan bagaimana dia akan keluar masuk. Terutama
untuk mengisi perut yang pasti akan lapar. Disatu sisi, bagi kami sekeluarga
bisa dibayangkan bagaimana kondisi rumah setelah pulangnya nanti. Pasti akan jorok dan bau.
Keunikan berikutnya, begitu kedua orang tua sudah ada di rumah, Si Tongky langsung mengangkut semua anaknya turun dari plafon dan menempatkannya disalah satu pojok rumah yang bisa terlihat oleh kedua orang tua saya.
Yang mengagetkan, kok tiba-tiba saja anaknya sudah ada semua. Tidak ketahuan kapan mindahkannya. 4 anak dari tempat yang belum ketahuan jalurnya seperti apa. Secara tiba-tiba saja orang tua saya melihatnya ketika naik ke lantai dua, dan menyaksikan Si Tongky sedang menikmati kebersamaan di tempat baru dengan posisi sedang menyusui anak-anaknya.
Kalau bisa diajak bicara, pengen katanya orang tua saya minta diceritakan bagaimana dia migrasi dari tempat semula ke tempat yang sekarang tanpa ketahuan. Tanpa kedengaran sama sekali. Termasuk minta diceritakan semua kejadian-kejadian selama ditinggal pergi, tentang bagaimana dia bisa mempertahankan hidup dan kehidupannya bersama keempat anaknya itu, lalu kenapa baru sekarang memutuskan untuk memindahkan anak-anaknya dari tempat sebelumnya di seputar plafon, kemudian kenapa pula memilih tempat melahirkan anak-anaknya di atas plafon, sementara pilihan lain bukannya tidak ada, setidaknya di seputar garasi yang bisa dikatakan lebih nyaman ketimbang di atas plafon.
Tapi, karena dia tidak bisa bercerita, kedua orang tua saya terpaksa membiarkan cerita itu hanya dialah yang tau.
Dan, sekian dulu cerita ini, kalau ada lagi ceritanya akan kuceritakan lagi.
Bandung, April 2021
Scarlett Nikita
*****


